Jumat, 27 Mei 2011

INOVASI/KONSEP PROGRAM KURSUS BERBASIS DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI)

A. Inovasi Internal
A.1. Peningkatan Capacity Building Pengelola
1. Kemampuan mengelola lembaga kursus secara profesional;
2. Memastikan visi dan misi serta program kerja berjalan sesuai harapan baik program jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang;
3. Memastikan bahwa ijin operasional lembaga kursus masih berlaku dan selalu diperpanjang bila masa berlakunya habis;
4. Melakukan evaluasi secara terus-menerus guna perbaikan lembaga kursus ke depan;
5. Menciptakan suasana kerja yang nyaman dan kekeluargaan;
6. Menjalin hubungan dan menjaga tali silaturahmi dengan pihak lain (Masyarakat sekitar, Disdik, kalangan industri, lembaga kursus lainnya dst)

A.2. Peningkatan Capacity Building Instruktur
1. Kemampuan dalam memberikan pembelajaran kepada warga belajar;
2. Mengisi daftar hadir Instruktur setiap kali memberikan pembelajaran;
3. Menjalankan kewajiban memberikan pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan rencana pembelajaran yang sudah ditetapkan;
4. Kemampuan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan;
5. Optimal dalam memberikan pembelajaran sehingga pelaksanaan kursus sesuai dengan harapan warga belajar;
6. Terlibat penuh dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan pihak lain yang bersifat positif demi kemajuan lembaga kursus.

A.3. Peningkatan Capacity Building Warga Belajar
1. Memastikan bahwa wajib belajar selalu hadir tepat waktu dalam mengikuti pembelajaran dan mengisi daftar hadir warga belajar;
2. Warga Belajar patuh dan mentaati tata tertib yang sudah ditentukan lembaga kursus;
3. Menciptakan suasana yang penuh keakraban sesama wajib belajar dan juga dengan instruktur, sehingga tercipta rasa saling memiliki terhadap lembaga kursus;
4. Mengerjakan praktek kursus dengan selalu tersenyum dan tidak memperlihatkan raut muka yang kusam;
5. Target 2 Minggu pembelajaran agar bisa tercapai dan wajib belajar dapat menyerap segala pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kursus yang dijalani;
6. Memastikan wajib belajar terserap 100% dalam penyaluran tenaga kerja pada bidang industri maupun mandiri setelah mengikuti pembelajaran.
A.4. Peningkatan Kapasitas Sarana dan Prasarana
1. Sarana dan prasarana harus selalu ditingkatkan, baik gedung yang memadai maupun dari alat-alat praktek dengan cara melakukan pembelian alat-alat yang diperlukan dan juga mengoptimalkan ruangan pembelajaran;
2. Selalu dalam keadaan baik dan terawat semua inventaris yang ada di lembaga kursus, serta selalu menjaga kerapihan dan keamanan disekitar lingkungan gedung;
3. Sebelum memulai pembelajaran, mesin-mesin/alat-alat praktek utama agar dilakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum difungsikan lebih lanjut;
4. Setiap kali pembelajaran selesai, warga belajar selalu membersihkan ruangan dan merapikan kembali alat-alat praktek yang telah digunakan;

A.5. Peningkatan Kwalitas Administrasi
1. Memastikan berjalannya tertib administrasi dan keuangan;
2. Honor Instruktur harus selalu diperhatikan, jangan sampai timbul permasalahan karena menyangkut hak-hak Instruktur yang harus dibayarkan;
3. Calon warga belajar yang mau mendaftar kursus wajib mengisi formulir pendaftaran dan melengkapi berkas yang ditentukan (Pas photo, FC KTP, FC ijazah terakhir dan membayar biaya pendaftaran);
4. Mengenakan biaya pendaftaran kepada warga belajar dengan biaya ringan dan dapat dicicil dan bisa dimungkinkan dilunasi biaya kursusnya setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan;
5. Mengurus semua berkas lamaran warga belajar yang telah lulus mengikuti kursus dan mengantarkan warga belajar ke calon tempat kerja yaitu di perusahaan yang sudah bekerjasama dengan lembaga kursus;
6. Memastikan bahwa warga belajar tidak didaftarkan melalui lembaga outschorcing atau yayasan penyalur tenaga kerja untuk menghindari pekerjaan yang bersifat kontrak;
7. Memastikan bahwa tidak ada biaya atau pungutan lain ketika menyerahkan berkas lamaran kerja warga belajar di suatu perusahaan;

B. Inovasi Eksternal
B.1. Hubungan Lembaga Kursus dengan masyarakat
1. Selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat terutama masyarakat sekitar dengan melibatkan diri dalam kegiatan sosial keagamaan dan lain-lain, terkecuali politik;
2. Memelihara hubungan dengan alumni lembaga kursus yang tersebar di beberapa wilayah/daerah;
3. Selalu memantau perkembangan alumni yang bekerja di perusahaan dan bagi mereka yang bekerja secara mandiri;
4. Apabila dirasa perlu guna menyerap kebutuhan dan animo masyarakat yang ingin mendaftar di lembaga kursus sementara lokasi tempat tinggalnya jauh dari lokasi kursus maka bisa membuka cabang di daerah tersebut;
5. Membuka cabang ditempat baru harus dipertimbangkan semata-mata untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat (sosial) dan bukan mengejar profit oriented semata;

B.2. Hubungan dengan Dinas Pendidikan – PNF dan Instansi Terkait
1. Membangun hubungan yang lebih erat sehingga informasi terkait kursus dan program-programnya bisa sampai di lembaga kursus;
2. Memastikan bahwa lembaga kursus sudah terdaftar dan memiliki ijin operasional serta Nilem dan persyaratan lain yang dibutuhkan;
3. Hadir setiap kali ada undangan kegiatan dari Disdik atau instansi terkait lainnya dan selalu menyediakan waktu dan mengirimkan utusannya;
4. Etikanya ketika sudah mempunyai ijin operasional lembaga kursus bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, tapi sebagai bagian mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang legalitas lembaga kursus;
5. Siap sedia ketika dibutuhkan Dinas Pendidikan/instansi terkait atau ketika diminta bantuannya sepanjang tidak melanggar hukum yang berlaku;

B.3. Hubungan dengan Dunia Industri
1. Menjalin komunikasi yang baik dan saling menguntungkan antara lembaga kursus dengan perusahaan, tentunya atas dasar saling kepercayaan;
2. Memastikan bahwa warga belajar yang lulus kursus bisa di tempatkan di perusahaan yang sudah bekerja sama dengan lembaga kursus;
3. Apabila dirasa perlu adanya Mou dengan perusahaan penyedia lapangan kerja guna menjamin keberlangsungan penempatan kerja warga belajar;
4. Apabila tidak adanya Mou dengan perusahaan, lembaga kursus harus terus menjaga hubungan yang baik sehingga warga belajar yang dititipkan selalu sesuai dengan harapan perusahaan dan tidak mengecewakan;
5. Bangun kerjasama dengan perusahaan yang lain supaya warga belajar bisa terserap 100% ke dunia industri; sehingga apabila warga belajar yang tidak diterima di salah satu perusahaan bisa diarahkan ke perusahaan lain;
6. Pastikan bahwa kerjasama yang dibangun lembaga kursus adalah dengan perusahaan secara langsung dalam pengertian lain tidak melalui lembaga outschorsing/yayasan penyalur tenaga kerja karena sebagian besar lembaga tersebut hanya menyalurkan tenaga kerja kontrak bukan untuk tenaga kerja tetap, dan juga karena pertimbangan lain;
7. Kalau hubungan dengan perusahaan sudah se-demikian akrab dan saling mempercayai, bisa ditawarkan kerjasama mendirikan lembaga kursus yang hasil perolehannya bisa dibagi 2 (dua) atau tergantung kesepakatan lainnya dan tentunya makin memudahkan lulusannya bisa langsung bekerja di perusahaan tersebut;

C. Membangun Mental Wirausaha (Intrepreneur)
1. Warga belajar yang lulus kursus supaya diarahkan untuk mempunyai mental dan sikap wirausaha;
2. Untuk tahap awal selepas selesai kursus, biasanya warga belajar sebanyak 90% nya bekerja di dunia industri sisanya bekerja secara mandiri. Namun demikian, lembaga kursus harus mengembalikan komposisi tersebut sehingga ke depan 90 % lulusannya bisa mandiri dan 10 % lulusannya masih dimungkinkan bekerja di dunia industri;
3. Apabila ternyata lulusan kursus banyak terserap di dunia industri, lembaga kursus harus selalu memantau perkembangannya dan memberi masukan supaya lulusannya jangan selamanya jadi orang gajian, atau jadi tenaga kasar/buruh;
4. Dengan berwirausaha, maka lulusan lembaga kursus bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar meski tidak semua yang coba beralih profesi menjadi intrepreneur langsung memperoleh omzet usaha yang besar, ada juga yang mengalami kerugian atau bangkrut;
5. Dengan semangat intrepreneur yang besar diserta niat yang bulat pula, niscaya semua lulusan lembaga kursus bisa mandiri sebagai wirausaha yang sukses dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan buat yang orang lain;

Rabu, 25 Mei 2011

PERAN PEMERINTAH MENGATASI PENGANGGURAN

Salah satu upaya yang ditempuh oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal (Ditjen PNFI) Departemen Pendidikan Nasional khususnya Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan untuk memberikan kontribusi bagi penurunan angka pengangguran adalah dengan meluncurkan bantuan subsidi penyelenggaraan program-program kursus berbasis pendidikan kecakapan hidup (PKH) yang terdiri atas KWD, KWK, KPP, dan PKH kerjasama SMK/Poltek.
KWD merupakan singkatan dari Kursus Wirausaha Orientasi Pedesaan. Kursus Wirausaha Orientasi Pedesaan (KWD) adalah program kursus yang diselenggarakan secara khusus, untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat kurang mampu agar memeroleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.
Melihat dari pengertiannya, program ini bertujuan untuk (1) meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga masyarakat pedesaan sebagai bekal untuk dapat bekerja dan/atau usaha mandiri sesuai dengan potensi/sumber daya lokal (local resources) di daerahnya, dan (2) memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat pedesaan agar memiliki kompetensi yang diperlukan dalam dunia usaha atau dunia kerja sesuai dengan jenis kursus yang diikuti, sehingga mampu merebut peluang kerja pada perusahaan/industri dengan penghasilan yang wajar atau mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
Sasaran dari program KWD adalah warga masyarakat kurang mampu berusia 18 s.d. 35 tahun yang tidak sedang sekolah dan tidak memiliki pekerjaan tetap yang layak dan tentunya yang belum pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Bidang usaha dalam program KWD adalah bidang-bidang usaha yang lazim ada di daerah pedesaan seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan dan bidang-bidang lain yang biasa ada di desa. KWK merupakan singkatan dari Kursus Wirausaha Orientasi Perkotaan.Kursus wirausaha orientasi perkotaan (KWK) adalah program kursus berbasis kecakapan hidup yang diselenggarakan untuk memberikan kesempatan belajarbagi masyarakat kurang mampu agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab dan berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.
Tujuan dari program KWK adalah (1) untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga masyarakat sebagai bekal untuk dapat bekerja dan/atau usaha mandiri sesuai dengan potensi/sumber daya serta peluang kerja yang ada di lingkungannya, dan (2) memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat agar memiliki kompetensi yang diperlukan dalam dunia usaha atau dunia kerja sesuai dengan jenis kursus yang diikuti, sehingga mampu merebut peluang kerja pada perusahaan/industri dengan penghasilan yang wajar atau sepanjang memungkinkan mampu memulai menciptakan lapangan kerja sendiri.
Sasaran dari program KWK adalah warga masyarakat dengan kriteria yang sama dengan sasaran program KWD. Yang membedakan KWD dari KWD adalah jenis (bidang) usahanya. Bidang-bidang usaha KWK terdiri atas menjahit, TKK (Tata Kecantikan Kulit), TKR (Tata Kecantikan Rambut), TRP (Tata Rias Pengantin), otomotif, jasa boga, elektroika, spa, perhotelan, komputer, dan keterampilan jasa lainnya yang laku di pasar perkotaan. KPP singkatan dari Kursus Para Profesi. Kursus Para Profesi (KPP) adalah salah satu program pendidikan non formal yang berupa program pelayanan pendidikan dan pelatihan berorientasi pada Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diberikan kepada masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan kepribadian yang mengarah pada penguasaan kompetensi di bidang keterampilan tertentu setingkat operator atau teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai bekal untuk bekerja.
Tujuan dari program KPP adalah untuk memberikan kesempatan bagi para peserta didik usia produktif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental sesuai dengan kebutuhan/peluang pasar kerja yang tersertifikasi serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha/industri (DUDI) dalam negeri dan luar negeri. Karakteristik sasaran program KPP sama dengan sasaran program KWD maupun KWK. Bedanya, KWD dan KWK diarahkan untuk bekerja pada perusahaan (orang lain) atau bekerja/ berusaha mandiri, sedangkan KPP diarahkan untuk bekerja sesuai dengan permintaan pasar (bursa) kerja. Prioritas Jenis keterampilan yang dapat diselenggarakan melalui program KPP, antara lain: Otomotif, Elektronika, Spa, Komputer, Akupunktur, PLRT plus, Garmen/menjahit, Baby Sitter, Care Giver, House Keeping, Pariwisata (perhotelan), dan jenis keterampilan lainnya sesuai job order.
Kebijakan dari Diretorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan menyatakan bahwa penyelenggaraan program-program kursus tersebut menggunakan pendekatan “four in one” atau “4 in 1”, yakni, (1) melalui analisis kebutuhan pelatihan (training need assessment-job order); (2) pelatihan berbasis kompetensi (competency based training/CBT); (3) sertifikasi; dan (4) jaminan penempatan kerja (job placement) atau pembinaan usaha mandiri. Analisis
kebutuhan pelatihan diperlukan untuk memastikan bahwa program yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pelatihan berbasis kompetensi dimaksudkan agar pelaksanaan pelatihan bisa efisien dan efektif serta benar-benar memberikan bekal keterampilan yang memadai bagi peserta didik untuk memenangkan pasar (bursa) kerja atau berusaha mandiri.
Sertifikasi diperlukan untuk menjamin kualitas lulusan program agar ketika memasuki dunia kerja dan dunia wirausaha benar-benar siap. Jaminan penempatan kerja diberikan untuk memberi kepastian kepada peserta program (peserta didik) bahwa program yang mereka ikuti benar-benar memenuhi harapan mereka.
Monitoring dan evaluasi memang dilaksanakan tetapi secara parsial dan terbatas pada penyelenggaraan programnya saja. Aspek hasil dan dampak penyelenggaraan program termasuk di dalamnya penelusuran lulusan masih belum dievaluasi secara mendalam. Untuk itu, perlu ada kajian yang lebih mendalam dan menyeluruh mengenai seluruh rangkaian penyelenggaraan program-program kursus tersebut sehingga dapat diketahui hasil dan dampak penyelenggaraan programnya untuk dapat mengetahui kefektifan dan efisiensi penyelenggaraan program.

Selasa, 24 Mei 2011

MEMBANGUN SEMANGAT BERWIRAUSAHA

A. Problematika Mengatasi Pengangguran
Angka pengangguran dari tahun ke tahun senantiasa tinggi bahkan cenderung meningkat. Peningkatan angka pengangguran ini secara rasional dapat dijelaskan. Pertama, tiap tahun jumlah angkatan kerja selalu meningkat sementara kesempatan kerja cenderung statis bahkan mungkin menurun karena adanya krisis global yang melanda berbagai Negara yang menyebabkan banyak perusahaan bangkrut sehingga harus merasionalisasi (mengurangi) jumlah karyawan. PHK (pemutusan hubungan kerja) menjadi pilihan yang paling populer yang diambil oleh pemilik perusahaan. Kedua, banyak angkatan kerja yang memiliki keterampilan tetapi keterampilannya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Ketiga, banyak angkatan kerja yang tidak memiliki kecakapan yang memadai sesuai kebutuhan pasar kerja. Angkatan kerja semacam ini biasanya adalah mereka yang putus sekolah atau lulus sekolah tetapi hanya sekedar lulus, dan biasanya mereka ini adalah lulusan sekolah umum—SMP, SMA. Keempat, lemahnya kemampuan mengidentifikasi dan mengeksplorasi sumber daya alam yang ada untuk dijadikan peluang usaha. Dan, kelima, masih rendahnya etos kerja atau sikap mental kewirausahaan pada diri angkatan kerja kita.
Barangkali tidak banyak yang dapat dilakukan untuk menanggulangi atau memberikan solusi langsung terhadap permasalahan pertama dan kedua selain membuka lapangan kerja yang sesuai dengan keterampilan dan pengalaman para angkatan kerja tersebut. Dan, solusi tersebut lebih tepat dilakukan oleh departemen-departemen selain depdiknas. Pada permasalahan ketiga, keempat dan kelima tampaknya ada peran yang perlu dimainkan oleh jajaran Departemen Pendidikan Nasional mulai dari tingkat pusat sampai akar rumput yakni para pendidik dan tenaga pendidikan yang berhubungan langsung dengan para peserta didik terutama para pendidik dan tenaga kependidikan pada pendidikan non formal. Pada permasalahan ketiga, misalnya, para pengelola, pendidik, dan supervisor (pengawas) pendidikan non formal sangat diharapkan dapat memberikan alternatif solusi dengan memberikan pendidikan keterampilan untuk dapat memasuki pasar (bursa) kerja atau berusaha mandiri dengan berwawasan wirausaha.

B. Kemampuan Berwawasan Wirausaha
Yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah kemampuan untuk memiliki wawasan wirausaha. Kenapa demikian? Seseorang yang tidak memiliki wawasan wirausaha, ketika dia bekerja pada perusahaan (orang lain), dia hanya akan berpikir untuk bekerja, mendapatkan uang (gaji), dan menghabiskannya. Demikian juga jika dia berusaha mandiri. Jangankan sukses berusaha, bisa-bisa modal yang digunakan untuk usaha mandiri akan habis sebelum usaha berjalan. Membentuk jiwa yang berwawasan wirausaha seharusnya menjadi fokus utama pendidikan keterampilan bagi peserta didik pendidikan non formal.
Dengan memiliki wawasan wirausaha, meskipun seseorang bekerja pada perusahaan (orang lain), dia akan berpikir untuk menyisihkan sebagian penghasilan (gaji)nya sehingga pada suatu saat nanti dia memiliki modal sendiri untuk berwirausaha. Pada permasalahan keempat dan kelima, peran pendidik dan tenaga kependidikan non formal mutlak diperlukan. Kemampuan mengidentifikasi potensi dan peluang usaha jarang (kalaupun ada) diperoleh dari pendidikan formal, lebih-lebih sekolah umum. Kemampuan itu lebih tepat dipelajari dan diperoleh melalui pendidikan non formal dan praktik langsung, terutama yang berkaitan dengan etos kerja dan sikap mental wirausaha.
Perlu ada upaya nyata yang dilakukan oleh peserta didik dengan dibantu oleh para pendidik dan tenaga kependidikan non formal untuk dapat memiliki etos kerja dan sikap mental wirausaha yang baik. Permasalahan keempat dan kelima tersebut tidak dapat langsung dilihat secara kasat mata tetapi akan tampak jelas ketika kita menggunakan penalaran dan olah rasa.
Diakui atau tidak, etos kerja kita memang masih rendah. Apa indikatornya? Mungkin ada yang bertanya demikian. Marilah kita lihat, berapa diantara angkatan kerja kita yang memiliki kegigihan dalam berusaha? Siapa yang berwirausaha kemudian mengalami kebangkrutan lalu bangkit lagi bahkan sampai berkali-kali jatuh dan bangun dalam berwirausaha? Adakah yang seperti itu? Kalau ada, berapa jumlahnya? Itu baru satu indikator, yakni kegigihan. Indikator lainnya seperti kejujuran, inisiatif, pemanfaatan waktu secara efektif, teliti dan telaten, dan sebagainya, sudahkah terpenuhi?

TANGGUNG JAWAB DUNIA USAHA/INDUSTRI

Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha/Industri
Dunia Industri/Usaha (DI/DU) merupakan mitra pemerintah dan masyarakat yang paling penting dalam merespon kebijakan pemerintah. Tanpa dukungan DI/DU kebijakan ini tidak akan berjalan dengan baik. Dengan demikian, sebagai salah satu komponen pendidikan, dunia industri memiliki peran yang strategis dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan formal dan nonformal.
Berkaitan dengan hal tersebut, menurut Bunbun, W. Korneli (2008) pihak dunia industri hendaknya secara sadar, bertanggung jawab dan profesional membantu program-program pengembangan pendidikan, khususnya lembaga nonformal seperti kursus.
Peran serta dunia usaha yang diharapkan itu dapat meningkatkan motif para peserta didik dalam memasuki dunia kerja, karena ada tantangan yang jelas ke depannya, yaitu dalam rekrutmen tenaga kerja. Hal ini berbeda pada jenis sekolah formal dimana outputnya masih bersifat umum dan belum memiliki keahlian khusus.
Pihak Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan di semua tingkatan juga harus konsisten dalam menerapkan kebijakannya. Fasilitas penunjang pendidikan nonformal harus mendapat perhatian dan teranggarkan secara jelas, begitupun para pengelola dan atau instrukturnya harus mendapat perhatian dalam jenjang pembinaan kariernya.
D. Ruang Lingkup Partisipasi Dunia Usaha/Industri
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada umumnya dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil, dan evaluasi kegiatan (Cohen dan Uphoff. 1980). Secara lebih rinci, partisipasi dalam pembangunan berarti mengambil bagian atau peran dalam pembangunan, baik dalam pernyataan mengikuti kegiatan, memberi masukan berupa pemikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal, dana atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasilnya (Sahidu, 1998).
Peran serta masyarakat dalam pendidikan, menurut Ety Erdawati (2008: 11) dapat dilakukan: “(a) secara individual, yaitu dilakukan oleh masyarakat secara sukarela dalam menyampaikan saran atau sumbangan lainnya untuk kepentingan lembaga kursus. (b) secara organisasi, yaitu melalui organisasi masyarakat yang ada di lembaga kursus. (c) melalui media cetak dan elektronik”.
Berkaitan dengan bentuknya, John M. Cohen (1997) mengungkapkan peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi 1) Peran serta dalam pengambilan keputusan; 2) Peran serta dalam pelaksanaan; 3) Peran serta dalam manfaat, 4) Peran serta dalam evaluasi.
Sementara menurut Bunbun, W. Korneli (2008), bentuk dukungan dunia industri terhadap pendidikan, diantaranya adalah: “(a) Memberi masukan untuk pengembangan kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi yang paling mutakhir. (b) Penyelenggaraan magang/praktek kerja industri/praktek kerja lapangan siswa/warga belajar (c) Pelaksanaan Uji Kompetensi Siswa/Evaluasi belajar. (d) Rekruitmen tenaga kerja.”

LANDASAN TEORI KURSUS

A. Definisi Inovasi
Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. Amabile et al. (1996) mendefinisikan inovasi yang hubungannya dengan kreativitas adalah:
Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui. Sedangkan invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kegiatan manusia. Prof. Dr. Anna Poejiadi (2001) memberikan penjelasan: Secara harfiah to discover berarti membuka tutup. Artinya sebelum dibuka tutupnya, sesuatu yang ada di dalamnya belum diketahui orang. Sebagai contoh perubahan pandangan dari geosentrisme menjjadi heliosentrisme dalam astronomi. Nicolaus Copernicus memerlukan waktu bertahun-tahun guna melakukan pengamatan dan perhitungan untuk menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, bahwa planet-planet lain juga berputar mengelilingi matahari. Kesalahan besar yang ia lakukan adalah bahwa ia yakin semua planet (termasuk bumi dan bulan) mengelilingi matahari dalam bentuk lingkaran. Penemuan ini menggugah Tycho Brahe melakukan pengamatan lebih teliti terhadap gerakan planet. Data pengamatan kemudian membuat Johanes Kepler akhirnya mampu merumuskan hukum-hukum gerak planet yang tepat. Penemuan ketiga tokoh tersebut merupakan ”discovery”. Sedangkan invent yang dalam kamus didefinisikan sebagai menciptakan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Contoh invention adalah penemuan Thomas Alva Edison (1847-1931), yaitu penemuan perekam suara elektronik, penyempurnaan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf mesin, mesin piringan hitam, dan pengembangan bola lampu pijar.
Inovasi diartikan penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam inovasi tercakup discovery dan invensi.
Kata kunci lainnya dalam pengertian inovasi adalah baru. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992 : 6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalah sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi.
Kita berada di tengah-tengah samudera hasil inovasi. Ada inovasi: pengetahuan, teknologi, ICT, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Inovasi dapat dikelompokkan pula atas inovasi besar dan inovasi kecil-kecil namun sangat banyak. Inovasi itu tidak harus mahal. Inovasi itu dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kalau leluhur kita tidak inovatif, kita semuanya akan tetap tinggal di gua-gua, dalam kegelapan, tanpa busana.
Inovasi dapat menjadi positif atau negatif. Inovasi positif didefinisikan sebagai proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkan sesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatif menyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilai tambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang.
Menurut Joseph Schumpeter definisi inovasi dalam ekonomi,1934:
Mengenalkan barang baru dimana para pelanggan belum mengenalnya atau kualitas baru dari sebuah barang;
1. Mengenalkan metoda produksi baru yang dibutuhkan, ditemukan melalui serangkaian uji coba ilmiah;
2. Membuka pasar baru, dimana perusahaan sejenis tidak memasukinya, baik pasar tersebut ada atau belum ada ketika perusahaan memasukinya;
3. Menguasai sumber bahan baku baru untuk industri barang;
4. Menjalankan organisasi baru, seperti menciptakan monopoli, atau membuka monopoli perusahaan lain.
B. Pengertian Kursus & Pelatihan
B.1. Pengertian Kursus
Beberapa pengertian tentang kursus:
a. Pelajaran tentang suatu pengetahuan atau keterampilan, yang diberikan dalam waktu singkat:
b. Lembaga di luar sekolah yang memberikan pelajaran serta pengetahuan atau keterampilan yang diberikan dalam waktu singkat:
-- kilat pelajaran atau pelatihan yg diberikan dl waktu singkat; -- penyegaran kursus untuk melanjutkan kegiatan terdahulu sesudah keberhasilan yg pertama; kursus untuk menyegarkan ingatan dan menambahkan teori baru;

B.2. Pengertian Pelatihan
Menurut Gomes (1997 : 197), “Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Idealnya, pelatihan harus dirancang untuk mewujudkan tujuan – tujuan organisasi, yang pada waktu bersamaan juga mewujudkan tujuan – tujuan para pekerja secara perorangan. Pelatihan sering dianggap sebagai aktivitas yang paling umum dan para pimpinan mendukung adanya pelatihan karena
melalui pelatihan, para pekerja akan menjadi lebih trampil dan karenanya akan lebih produktif sekalipun manfaat – manfaat tersebut harus diperhitungkan dengan waktu yang tersita ketika pekerja sedang dilatih”.
Pelatihan menurut Gary Dessler (1997 : 263) adalah “Proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”. Sedangkan menurut John R. Schermerhorn, Jr (1999 : 323), pelatihan merupakan “Serangkaian aktivitas yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan dan meningkatkan ketrampilan yang berkaitan dengan pekerjaan”.
Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam dunia perhotelan. Karyawan, baik yang baru ataupun yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya.

Senin, 11 April 2011

Formulir Pendaftaran

FORMULIR PENDAFTARAN
WARGA BELAJAR
Photo
3 x  4
 
LEMBAGA KURSUS & PELATIHAN PESONA 79

NAMA                                                  :________________________________
TEMPAT TANGGAL LAHIR             :________________________________
ALAMAT                                              :__________________________________________________________
JENIS KELAMIN                                 : Laki/Perempuan (coret yang tidak perlu)
AGAMA                                                               :__________________________________________________________
NAMA IBU KANDUNG                   :__________________________________________________________
NO TELP/HP                                       :__________________________________________________________
PENDIDIKAN                                      : SD/SMP/SMA/PT (coret yang tidak perlu)
NAMA SEKOLAH                               :__________________________________________________________


Tangerang,                              2011
Yang bertandatangan dibawah ini



(__________________________)
                    Nama Jelas


Jadwal Pembelajaran



No.
Senin
Selasa

Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
1
08.00 – 10.00

08.00 – 10.00

08.00 – 10.00

08.00 – 10.00

08.00 – 10.00

08.00 – 10.00

2
10.00 – 12.00
10.00 – 12.00
10.00 – 12.00
10.00 – 12.00

10.00 – 12.00
10.00 – 12.00
3
12.00 – 13.00
12.00 – 13.00
12.00 – 13.00
12.00 – 13.00
12.00 – 13.00
12.00 – 13.00

4
13.00 – 15.00
13.00 – 15.00
13.00 – 15.00
13.00 – 15.00
13.00 – 15.00
13.00 – 15.00

5
15.00 – 17.00
15.00 – 17.00
15.00 – 17.00
15.00 – 17.00
15.00 – 17.00
15.00 – 17.00

PENJELASAN:
A.      Untuk materi pengenalan alat-alat menjahit
B.      Untuk teknik menggunakan alat
C.      Untuk bahan-bahan yang digunakan dalam menjahit
D.      Alokasi waktu menyesuaikan
E.       Hari Minggu digunakan untuk evaluasi dan persiapan mengantar lulusan ke perusahaan